Kritik Prabowo pemerintah ugal-ugalan, Pemerintah Jokowi ugal-ugalan, Djarot bela Jokowi

Sebelumnya melalui akun Facebook pribadi Prabowo membuat status mengenai ‘Make Indonesia Great Again’

Isi status Prabowo yang mengkritik pemerintah melalui akun sosial medianya tersebut mejelaskan bahwa pemerintah saat ini tidak tahu apa yang mereka kerjakan dan ugal-ugalan dalam menjalankan sistem pemerintahan.

Status Prabowo tersebut spontan mendapat respon dari banyak pihak kalau Prabowo tidak tahu apa yang sedang dibicarakannya.

Sebelumnya Juru Bicara Tim Kampanye Nasional kubu Jokowi-Ma’aruf telah merespon status Prabowo tersebut dan mengatakan bahwa Prabowo ingin mengembalikan Indonesia kezaman orde baru.

Cek Juga : Timses Jokowi : apa Prabowo mau kembalikan gaya pemerintahan Orba

Kini mantan Wakil Gubernur DKI, Saiful Djarot turut menyatakan pendapat dan respon nya terkait status Prabowo tersebut.

Politikus PDIP, Djarot Saiful Hidayat mengatakan wajar bila Prabowo berpendapat seperti itu karena hingga pada saat ini Prabowo sama sekali belum ada pengalaman memimpin dipemerintahan.

“Ya maklum. Karena Pak Prabowo kan belum pernah punya pengalaman di pemerintahan. Jadi dimaklumi,” ucap Djarot di Posko Cemara, Jakarta, Selasa 16 Oktober 2018.

“Beliau kan pernah di militer, tapi belum pernah memimpin di wali kota, misalnya, gubernur, kan belum pernah sama sekali. Sehingga kalau belum memahami dinamika yang ada di birokrasi, ya harap maklum,” jelas Djarot.

Djarot juga menambahkan bahwa pengalaman memimpim Prabowo hanyalah sebatas didunia militer saat berseragam TNI.

Selebihnya Prabowo tidak memiliki pengalaman lagi dipemerintahan dan tidak pernah menduduki posisi dipemerintahan sehingga tidak tahu jelas dinamika yang ada dalam pemerintahan.

Djarot bela Jokowi dan pesan untuk Anies Baswedan

Djarot bela Jokowi dan pesan untuk Anies Baswedan

Setelah genap setahun memimpin Ibukota, Gubernur Anies Baswedan mendapat pesan unik dari Djarot.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menyampaikan pesan kepada Anies agar jangan terlalu lama menjomblo dan segera menentukan pendamping dalam memimpin Ibukota.

“Jangan lama-lama jomblo,” pesan Djarot saat ditemui di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (17/10) malam.

Djarot juga menyampaikan apresiasi nya terkait kebijakan khususnya terkait reklamasi teluk Jakarta.

“Saya apresiasi Pak Anies, misalnya bisa membendung, mengatur sedemikian rupa proses reklamasi. Itu kita apresiasi,” kata Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Abdul Kadir Karding.

“Tetapi juga kita berharap agar kemacetan yang menjadi masalah utama di Jakarta ini bisa diurai lebih bagus dengan sistem perencanaan pembangunan, infrastruktur dan manajemen lalu lintas dikelola secara baik,” jelasnya.

Lihat Juga : Prasetio berikan buku kebijakan Ahok untuk kandidat Wagub DKI

Kritikan Prabowo di Facebook

Prabowo sebelumnya ada memuat pemikirannya di media sosial Facebook miliknya yang mengkritik pemerintahan saat ini Jokowi-Jusuf Kalla.

Di era reformasi, kita percaya demokrasi bisa menjadi sarana untuk mengembalikan kejayaan Indonesia. Masa transisi kita lalui di bawah kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati Sukarno Putri. Sementara perubahan-perubahan mulai kita rasakan pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Perubahan-perubahan itu sebagian kita rasakan dengan cepat, sebagian lainnya terus tumbuh dan berproses.

Para pendahulu kita mampu meninggalkan jejak perubahan untuk Indonesia karena mereka membawa karakter kepemimpinan yang sama yaitu: kepemimpinan yang kuat, kepastian hukum dan harmonisnya hubungan antar lembaga negara. Sesuatu hal yang langka kita temukan sekarang.

Empat tahun terakhir kita melihat bagaimana sebuah keputusan bisa dengan mudah direvisi atau dibatalkan tanpa memikirkan dampak hingga rakyat bawah. Hukum menjadi alat tawar menawar politik tanpa pernah mempedulikan rasa keadilan. Dan kita terus menyaksikan bagaimana riuhnya kabinet kerja, akibat saling tuding antar kementerian dan lembaga negara. Perlahan-lahan mimpi untuk mengembalikan kejayaan Indonesia luntur oleh cara ugal-ugalan dalam mengelola negara.

Sekarang, saudara sekalian-sekalian, kenapa terdengar nada-nada sumbang yang ketakutan terhadap gagasan untuk mengembalikan kejayaan Indonesia. Kenapa bergema nada-nada khawatir dari keinginan untuk mengedepankan kepentingan bangsa di atas segalanya, menjadikan Indonesia untuk orang Indonesia.