Prabowo bantu hapus stigma Jokowi antek Cina

Kehadiran Prabowo dan Agus Harimurti Yudoyono pada peringatan hari Nasional Cina dihotel Shangri-La Jakarta atas undangan Duta Besar Cina untuk Indonesia memberikan pandangan baru atas Cina dan Jokowi,

Presiden Joko Widodo yang selama ini dikaitkan dengan Cina dan sering dikabarkan sebagai antek Cina dan lebih pro dan condong ke Cina bisa berubah saat ini.

Atas undangan dari Xiao Qian, Duta Besar Cina untuk Indonesia Prabowo dan Agus Harimurti Yudhoyono hadir dalam acara peringatan hari Nasional Cina.

Kabar ini pertama kali disampaikan oleh Ketua Tim Kampanye Daerah Jabar Jokowi-Ma’aruf. Dedi Mulyadi.

Hal ini secara tidak langsung sudah menjelaskan kepada publik kita kalau selama ini tidak hanya Bapak Joko Widodo saja yang memiliki hubungan dengan Cina. Sehingga anggapan dari Jokowi pro cina atau aseng sudah tidak relevan lagi.

Komoditas politik sebelumnya selalu menyebut kalau Jokowi adalah antek aseng dan pro Cina.

“Apalagi Saudi, nilai investasinya di Cina lebih besar. Kemudian ekonomi Turki yang tengah carut-marut kan dibantu China. Artinya, saya ingin mengatakan bahwa hubungan itu normal saja,” tuturnya.

Komoditas politik Jokowi antek Cina

Selama ini banyak lawan politik bapak Jokowi yang menyerang dengan berbagai isu salah satunya adalah isu agama dan SARA dimana Jokowi lebih pro terhadap salah satu suku Indonesia Cina.

Mengenai isu agama Jokowi pun sempat diserang. Namun setelah dipasangkan dengan KH Ma’aruf Amin isu tersebut kembali dimentahkan.

Baca Juga : Didukung banyak Guberner, Demokrat panas

Dedi berharap semua isu sudah selesai saat ini dan mari bersaing secara sehat tidak dengan melakukan framing negatif terutama Tiongkok sebab mitra dagang mereka bukan hanya Indonesia saja, tapi Saudi Arabia, Turki dan Iran juga memiliki porsi bisnis yang sama.

China memiliki pengaruh yang besar di Asia ditambah etos bisnis yang kuat juga kekayaan alam yang langsung dikelola oleh negara membuat laju pembangunan dinegara tersebut semakin cepat. Banyak proyek besar dikerjakan dalam waktu singkat saja.

Hasilnya pun dapat dinikmati oleh rakyat Cina, negara mengalami surplus disegala aspek dan penerimaan negara maupun aspek tenaga kerja. Kelanjutannya adalah China melakukan ekspansi bisnis kenegara lain di Asia termasuk Indonesia.

“Misal nanti saat negosiasi investasi itu disepakati contohnya seperti Korea Selatan dan Jepang. Per 2 ribu orang karyawan lokal Indonesia itu hanya 70 ekspatriat dari negara pemilik investasi. Saya kira bisa seperti itu,” pungkasnya.

Setelah ini isu Jokowi antek cina pun tidak relevan lagi. Kubu oposisi pun memiliki hubungan dengan Cina.